Halaman

Minggu, 26 Mei 2013



IMPLIKASI ASPEK PERKEMBANGAN DALAM PROSES PEMBELAJARAN DI MADRASAH IBTIDAIYAH


Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Pada
Mata Kuliah Perkembangan Peserta Didik

Dosen Pengampu:
Kiswan S. Ag., M. Pd.



Disusun Oleh:
Rijal Muhamad Kosim


PENDIDIKAN GURU MADRASAH IBTIDAIYAH (PGMI)
FAKULTAS TARBIYAH
INSTITUT AGAMA ISLAM DARUSSALAM (IAID)
2013


KATA PENGANTAR

Puji beserta syukur mari kita panjatkan ke hadirat Allah yang Maha Ghafur, shalawat beserta salam semoga tercurah limpahkan kepada Nabi Muhammad Saw, juga kepada keluarga, sahabat dan semoga sampai kepada kita semua diberikan safa’at olehnya.
Makalah ini penulis susun sebagai tugas dari mata kuliah perkembangan peserta didik dengan judul “Implikasi Aspek Perkembangan dalam Proses Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah”.
Penulis menyadari bahwa makalah ini jauh dari sempurna, oleh karena itu penulis membuka tangan untuk menerima kritik dan saran dari pembaca demi terciptanya makalah yang lebih baik kedepannya.
Akhir kata, penulis mengucapkan terima kasih pada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini, semoga Allah Swt membalas kebaikan semuanya. Amiin...



Ciamis, 25 mei 2013


Penulis
Rijal muhamad kosim









DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR....................................................................................... i
DAFTAR ISI....................................................................................................... ii
BAB I        PENDAHULUAN
A.      Latar Belakang...................................................................................... 1
B.       Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.       Tujuan ..................................................................................................  1
BAB II       PEMBAHASAN
A.      Perkembangan Fisik Motorik................................................................ 2
B.       Perkembangan Sosial............................................................................ 3
C.       Perkembangan Kognitif........................................................................ 5
D.      Perkembangan Emosi............................................................................ 6
E.       Perkembangan Bahasa.......................................................................... 8
F.        Perkembangan Moral............................................................................ 9
G.      Perkembangan Agama.......................................................................... 9
BAB III     PENUTUP
Simpulan...................................................................................................... 11
DAFTAR FUSTAKA......................................................................................... 12






BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Pendidikan merupakan proses yang sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik yang sempurna, baik dalam segi pengetahuan, perasaan, dan perbuatan agar menjadi manusia yang sempurna karena secara umum tujuan pendidikan adalah menolong anak  mengembangkan potensinya dengan baik.
Dalam konteks pendidikan, anak usia MI perlu mendapatkan perhatian khusus karena merupakan peletak pendidikan dasar  yang akan memberikan bekal  kepada anak  pada jenjang pendidikan selanjutnya. Lebih dari itu, anak seusia dini merupakan bekal yang  akan membuka pintu dunia bagi mereka, sedangkan orang tua memandang bahwa sekolah adalah sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan anak.

B.       Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:
a.       Bagaimana tanda perkembangan pada anak MI?
b.      Bagaimana implikasi perkembangan pada anak MI?
c.       Apa Peran sekolah dalam perkembangan anak MI dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, efektif dan menyenangkan?

C.      Tujuan
Adapun tujuan penulis sebagai berikut:
a.       Mengetahui tanda perkembangan pada anak MI
b.      mengetahui implikasi perkembangan pada anak MI
c.       Mengetahui Peran sekolah dalam perkembangan anak MI dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, efektif dan menyenangkan



BAB II
PEMBAHASAN

Seorang guru akan dapat melakukan bimbingan yang tepat jika memahami tingkat perkembangan anak MI karena tanpa mengenal pola perkembangan anak MI, mustahil akan membuat rencana yang efektif dalam mengadakan perubahan dari anak itu sendiri.
Sagala (2005:121), mengatakan bahwa seluruh kegiatan interaksi pendidikan diciptakan bagi kepentingan anak yaitu membentuk pengembangan semua potensi dan kecakapan yang dimilikinya. Oleh karena itu, itu hal-hal yang berhubungan dengan perkembangan dan pertumbuhan peserta didik  mempunyai implikasi yang kuat terhadap penyelenggaraan pendidikan pada anak MI.

A.      Perkembangan Fisik Motorik
Dilihat dari perkembangan fisik motorik, anak MI dituntut untuk mengusai keterampilan fisik yang diperlukan dalam permainan dan aktivitas fisik motorik.
Fuad, Muhammad Abdul Baqi (2012), Nabi muhammad saw bersabda: “mengajari anak-anakmu berenang dan memanah adalah adalah kewajiban, beliau berkata, ajari anakmu memanah dan latihan berkuda sampai mereka lancar.” (HR. Bukhari)
Berdasarkan hadis tersebut dapat difahami bahwa perkembangan fisik motorik pada anak MI mutlak diperlukan bahkan merupakan kewajiban bagi pendidik untuk mengembangkan kemampuan tersebut.
Menurut Hasan (2006), tujuan pengembangan fisik motorik adalah untuk melatih keterampilan fisik terutama melatih motorik kasar dan motorik halus sehingga anak dapat meloncat, memanjat, dan lain sebagainya, disamping ia juga dapat bermain musik, menari, bahkan dapat membuat kerajinan tangan. Pengembangan keterampilan juga diarahkan agar tidak ada bias gender,  anak laki-laki diharapkan memiliki ketermpilan fisik lebih kuat dibandingkan dengan anak perempuan.
Perkembangan fisik motorik anak MI dapat dilakukan dengan memberikan kesempatan yang sama pada anak laki-laki dan anak perempuan, bahkan guru dituntut untuk menciptakan budaya lingkungan teman sebaya yang mengajarkan keterampilan fisik dengan cara mencoba membantu seseorang  yang mengalami hambatan dalam tugas-tugas perkembangan ini.
Perkembangan fisik motorik ini ditandai dengan hal-hal sebagai berikut :
a.         Pertumbuhan anak pesat, lengan dan kaki panjang tungkai kurus, kemudian menjadi gemuk.
b.        Gigi susu berganti dengan gigi tetap
c.         Penuh energi, suka bergerak dan aktif sekali, makin lama keaktifan lebih terarah.
d.        Masing-masing senang berlari
Sementara itu, implikasi pada perkembangan ini adalah sebagai berikur
a.         Perlu makanan bergizi, cukup banyak istirahat, dan aktivitas ramai berseling dengan aktivitas tenang.
b.        Perlu melatih fisik anak, melalui permainan sepak bola atau permainan lain.
c.         Permainan dibutuhkan sebagai selingan belajar, bekerja, dan bermain kegiatan harus seimbang.
Menurut yusup (2006), seiring dengan perkembangan motorik ini, bagi usia anak MI sangat tepat diajarkan materi yang ada kaitannya  dengan perkembangan fisik dan motorik antara lain :
a.         Dasar-dasar keterampilan untuk menulis dan menggambar
b.        Keterampilan berolahraga atau menggunakan alat agama
c.         Gerakan permainan
d.        Baris-berbaris secara sederhana untuk menanamkan kebiasaan kedisiplinan dan ketertiban
e.         Gerakan-gerakan ibadah solat
Berdasarka uraian di atas dapat difahami bahwa implikasi perkembangan anak terhadap penyelenggaraan pendidikan anak adalah guru harus memberikan latihan-latihan yang dapat mengembangkan kondisi dan psikis peserta didik.

B.       Perkembangan Sosial
Perkembangan sosial anak sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosialnya, baik orang tua, orang dewasa lainnya atau teman sebayanya. Apabila lingkungan sosial tersebut memfasilitasi atau memberikan peluang terhadap perkembangan anak secara positif, maka anak akan dapat mencapai perkembangan sosialnya lebih matang.
Namun, apabila lingkungan sosial tersebut kurang kondusif, seperti perlakuan orang tua kasar, sering memarahi, acuh tak acuh, tidak memberikan bimbingan, teladan dan pengajaran atau pembiasaan terhadap anak dalam menerapkan norma-norma, baik agama maupun tatakrama atau budi pekerti, maka anak cenderung menampilkan prilaku maladjustmen seperti:
a.         Minder
b.        Senang mendominasi orang lain
c.         Egoish/selfish
d.        Senang mengisolasi diri/menyendiri
e.         Kurang memiliki perasaan rasa
f.         Kurang memperdulikan norma atau prilaku
Perkembangan sosial anak ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
a.         Masih merasa dekat dengan orang tua
b.        Hormat dan segan pada guru
c.         Dapat menyesuaikan diri dengan teman sebaya
d.        Belajar berdiri sendiri bila perlu membela diri
e.         Kurang sabar terhadap anak kecil
f.         Belum mengetahui kalah dengan hormat
Sementara itu, implikasi pada perkembangan ini adalah sebagai berikut:
a.         Carilah kontak baik  dengan orang tua dengan mengunjungi keluarga mereka
b.        Berilah banyak kesempatan untuk bergaul dengan teman sebaya agar saling mengerti
c.         Guru harus dekat dengan mereka bila mereka bertengkar, ia perlu sebagai jembatan perdamaian
d.        Ajarilah mereka untuk mengerti anak kecil
e.         Ajarkan kerjasama karena belum waktunya untuk mengadakan banyak perlombaan
Implikasi perkembangan sosial anak terhadap penyelenggaraan pembelajaran di MI adalah guru harus berperan sebagai berikut:
a.         Konservator (pemelihara) terhadap nilai-nilai yang merupakan sumber norma yang akan dilakukan oleh peserta didik
b.        Transmitor (penerus) ilmu pengetahuan terhadap peserta didik
c.         Transformator (penerjemah) pendidik harus memberikan contoh yang baik terhadap peserta didik dalam berinteraksi dengan peserta didik
d.        Organisator (penyelenggara) pendidik harus menyelenggarakan pendidikan yang kondusif bagi peserta didik (Syamsudin:1996)

C.      Perkembangan Kognitif
Pada tahap perkembangan kognitif, memungkinkan anak MI memperoleh ilmu pengetahuan serta menggunakan ilmu pengetahuan yang telah diperoleh untuk dihubungkan dengan lingkunan dan masalah-masalah yang terjadi di sekitar anak.
Menurut yusup (2006) secara umum pada usia sekolah (6-12) tahun, anak sudah dapat mereaksi rangsangan intelektual , atau melaksanakan tugas-tugas belajar yang menurut kemampuan intelektual atau kemampuan kognitif seperti menulis, membaca dan menghitung. Pada tahap perkembangan kognitif ini, anak MI harus dibekali pengalaman-pengalaman dan kemampuan tertentu untuk menambah pengertian dan menanamkan tingkah laku dan pola-pola baru agar mereka dapat mempergunakannya secara efektif.
Implikasi perkembangan ini ditandai dengan tiga kemampuan atau kecakapan baru yaitu: Mengklasifikasikan (mengelompokkan), menyusun, mengasosiasikan (menghubungkan atau menghitung) angka-angka atau bilangan, dan kegiatan yang berkaitan dengan dengan perhitungan angka, seperti menambah, mengurangi, mengalikan dan membagi. Disamping itu, anak MI sudah memiliki kemampuan memecahkan masalah.
Pada tahap ini juga kemampuan intelektual anak cukup dapat dibekali kecakapan untuk berfikir dan bernalar, termasuk pemberian pengetahuan tentang manusia, hewan beserta lingkungan alam disekitarnya.
Sekolah mempunyai peran yang sangat penting dalam pengembangan kemampuan intelektual anak. Dalam hal ini guru harus memberikan perhatian agar menunjang proses pendidikan anak. Guru juga harus memberikan kesempatan kepada anak untuk mengemukakan hasil belajarnya serta memberikan komentar terhadap pekerjaan yang telah dilakukan oleh anak MI dalam proses belajar. Kegiatan seperti ini diharapkan dapat membantu proses pencapaian tujuan pendidikan yang diinginkan oleh sekolah.
Perkembangan kognitif anak ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
a.         Konsertasi dapat bertahan lebih lama, mereka sanggup mengikuti pelajaran di sekolah sampai 43 menit.
b.        Dapat mengikuti intruksi guru dan mengerjakan tugas tertentu
c.         Tumbuh rasa tanggung jawab karena lebih mengerti
d.        Senang mendengarkan cerita, meskipun sudah dapat membaca
e.         Ada kemauan belajar membaca, menghitung dan menulis
f.         Belum mengerti hal yang abstrak
g.        Cara berfikirnya berdasarkan hal yang konkrit
h.        Belum mempunyai pendapat sendiri
Dengan memperhatikan perkembangan kognitif anak tersebut, pada kegiatan pembelajaran dapat diwujudkan dalam bentuk kegiatan berikut:
a.         Antisipasi mereka untuk duduk tenang selama bercerita, kemudian beri kesempatan untuk bergerak
b.        Berilah tugas, seperti mengulang ayat, hafalan atau cerita
c.         Berilah tanggung jawab sesuai kemampuan
d.        Berilah cerita al-Qur’an atau cerita Nabi-Nabi terdahulu
e.         Pakailah alat peraga atau huruf yang jelas
f.         Pakailah kata-kata dan contoh-contoh berdasarkan hal yang konkrit dan sederhana
g.        Janganlah menawarkan banyak keputusan
h.        Berilah contoh yang baik dalam kelakuan dan perkataan
Bagi anak MI, pengoprasian suatu penjumlahan harus menggunakan benda-benda nyata, terutama di kelas-kelas awal karena tahap perkembangan berfikir mereka  baru mencapai pada tahap konkret.

D.                Perkembangan Emosi
Perkembangan emosi merupakan perkembangan yang terjadi pada anak MI ditandai dengan dorongan dan minat untuk mencapai atau memiliki sesuatu yang disebabkan kebutuhan berbagai dorongan dan minat. Hal itu, karena menginjak usia sekolah perkembangan emosi pada anak MI diarahkan agar anak dapat merespon sesuatu lebih banyak dilakukan dengan penalaran dan pertimbangan-pertimbangan objektif didukung dengan dorongan emosional  yang mempengaruhi pemikiran-pemikiran dan tingkah lakunya.
Tahap perkembangan ini anak mulai menyadari tentang perbuatan yang tidak disukai oleh anggota masyarakat. Oleh karena itu, perkembangan emosi diarahkan pada pemahan tentang kehidupan emosional dan perasaan-perasaan, baik perasaan tentang dirinya sendiri  maupun tentang orang lain seperti gejala-gejala emosional marah, takut, bangga dan rasa malu, cinta dan benci, harapan-harapan dan rasa putus asa, perlu dipahami dan dicermati dengan baik.
Perkembangan emosional pada anak Mi ditandai dengan hal-hal sebagai berikut:
a.         Lebih stabil, tetapi mudah gelisah, gugup, kadang-kadang putus asa
b.        Pada permulaan anak merasa kuatir, belum bisa, lama-kelamaan lebih yakin akan diri sendiri.
c.         Kurang sabar terhadap diri sendiri
d.        Membesar besarkan persoalan dapat merasakan perasaan teman lain juga perasaan orang tua.
Sementara itu, implikasi perkembangan emosi anak MI adalah sebagai berikut:
a.         Usahakan suasana yang tenang, ramah dengan tidak boleh ditertawakan jika melakukan kesalahan
b.        Berilah tugas yang tidak terlalu sulit dengan memberi sifat berani pada anak dalam hal yang terasa sulit
c.         Ajarlah anak bekerja dengan tenang  dengan menyelesaikan apa yang dimulai dengan teliti
d.        Membetulkan fakta tanpa mempermalukan anak dalam menyelesaikan tugas mereka
e.         Ajarilah anak untuk mengekspresikan rasa sayang dan juga menolong kawan dalam kesulitan, termasuk orang tua
Hal ini dipertegas oleh Yusup (2006), bahwa implikasi perkembangan ini akan memberikan kemampuan dalam mengontrol emosi anak MI serta dapat melakukan melalui peniruan dan pelatihan. Emosi yang harus ditanamkan pada anak MI ada emosi positif seperti, cinta/kasih sayang, gembira, semangat rasa ingin tahu terhadap materi yang disampaikan guru, seperti memperhatika penjelasan guru , membaca buku, aktif berdiskusi, mengerjakan tugas, disiplin dalam belajar, karena apabila emosi negatif yang menyertai  proses belajar anak MI akan memiliki perasaan tidak senang, kecewa, tidak bergairah, hal ini menjadi hambatan dalam proses belajar mengajar.
Peran sekolah dalam perkembangan ini adalah menciptakan lingkungan belajar yang kondusif, efektif dan menyenangkan, seperti berikut:
a.         Mengembangkan kelas yang bebas dari ketegangan (seperti sikap guru yang tidak ramah dan bersahabat)
b.        Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunya harga diri (tidak mencemooh, mengejek, menghina, menyalahkan pendapat anak).
c.         Memberikan nilai secara objektif
d.        Menghargai karya peserta didik

E.       Perkembangan Bahasa
Perkembangan bahasa adalah perkembangan aspek-aspek yang penting dalam perkembangan anak karena aspek-aspek bahasa merupakan alat komunikasi  yang mempunyai fungsi sosial karena termasuk dalam jaringan sosial dan bahasa mempunyai  fungsi-fungsi ekspresit.
Implikasi dalam perkembangan bahasa anak MI harus disesuaikan dengan tingkat perkembangan kebahasaan anak MI, dimulai dari umur 1 ½ tahun dan selesai pada kurang lebih tahun ke-4 dan tahun ke-5 sebagai awal dari perkembangan anak MI.
Perkembangan bahasa  anak sangat berguna bagi guru dalam mengembangkan bahasa pertama (bahasa ibu) sebagai landasan dalam memberikan materi pelajaran karena berhubungan dengan penggunaan bahasa ke-2 . hal itu karena perkembangan bahasa anak MI berada pada tingkat sebagai berikut:

a.         Membuat kalimat yang kebih sempurna
b.        Membuat kalimat majemuk
c.         Menyusun dan mengajukan pertanyaan

F.       Perkembangan Moral
Perkembangan moral adalah perkembangan moral anak yang merupakan hal yang sangat penting  bagi perkembangan kepribadian dan sosial anak dalam kehidupan sehari-hari. Pada hakikatnya pada perkembangan ini anak MI  telah mengenal konsep moral (mengenal benar salah atau baik buruk) dimulai dari lingkungan keluarga.
Implikasi perkembangan terhadap penyelenggaraan pendidikan di MI guru mengarahkan anak didiknya untuk melakukan kebaikan  dan selalu menanamkan kejujuran karena pada tahap perkembangan ini  anak MI sudah mengetahui peraturan  dan tuntutan dari  orang tua atau lingkungan sosial, disamping itu anak telah dapat mengasosiasikan  perbuatannya dengan lingkungan sekitarnya. Misalnya perbuatan nakal, jujur, adil, serta sikap hormat baik terhadap orang tua, guru dan lingkungan sekitarnya.  

G.      Perkembangan Agama
Pada dasarnya perkembangan keagamaan anak merupakan dasar manusia untuk mengenal Tuhannya.  Dasar untuk beragama merupakan kemampuan manusia  yang mempunyai kemungkinan untuk berkembang secara alami.
Langkah-langkah yang harus dilakukan sekolah adalah menyesuaikan dengan tahapan keagamaan  yang terjadi pada anak MI dengan cara sebagai berikut:
a.         Tahap ini anak yang berumur 3-6 tahun, konsep keTuhanan  banyak dipengaruhi oleh fantasi dan emosi, sehingga dalam menanggapi agama, anak masih menggunakan konsep fantastis, yang diikuti oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal
b.        Tahap ini dimulai sejak usia masuk sekolah tujuh tahun sampai pada usia pubertas
c.         Pada masa ini ide keagamaam anak didasarkan atas emosional, sehingga melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal ini anak mulai tertarik pada lembaga-lembaga keagamaan yang mereka lihat dan dikerjakan oleh orang dewasa  dalam lingkungan mereka. Segala bentuk tindakan keagamaan mereka ikuti dan tertarik untuk mempelajarinya.
d.        Pada tingkat ini anak telah mempunyai  kepekaan emosi yang tinggi, sejalan dengan perkembangan usia mereka.
Implikasi perkembangan agama  pada anak MI dalam proses pendidikan, sekolah atau guru harus menanamkan nilai-nilai keagamaan sejak dini dengan menyusuaikan dengan tingkat perkembangan anak  termasuk sekolah juga harus memfasilitasi  kegiatan keagamaan termasuk kegiatan mengaitkan pendidikan dengan kegiatan keagamaan atau nilai-nilai agama islam dalam kehidupan sehari-hari.
Sedangkan faktor lain yang harus dipertimbangkan adalah:
a.         Aspek usia
b.        Aspek fisik
c.         Aspek psikis

















BAB III
PENUTUP

Simpulan
Dalam konteks pendidikan, anak usia MI perlu mendapatkan perhatian khusus karena merupakan peletak pendidikan dasar  yang akan memberikan bekal  kepada anak  pada jenjang pendidikan selanjutnya. Lebih dari itu, anak seusia dini merupakan bekal yang  akan membuka pintu dunia bagi mereka, sedangkan orang tua memandang bahwa sekolah adalah sebagai tempat untuk mengembangkan kemampuan anak.
Seorang guru akan dapat melakukan bimbingan yang tepat jika memahami tingkat perkembangan anak MI, karena tanpa mengenal pola kerkembangan anak MI mustahil akan membuat rencana yang efektif dalam mengadakan perubahan dari anak itu sendiri.


















DAFTAR FUSTAKA

Yusuf, Samsyu, Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: Rosda Karya, 2006
Sagala, Saiful, Konsep dan Makna Pembelajaran, Bandung: Alfabeta, 2007
Syamsudin, Abin Makmum, Psikologi Kependidikan, Bandung: Rosda karya, 1996
Hasan, Aliah B. Purwakania, Psikologi Perkembangan Islami, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2006
Fuad, Muhammad Abdul Baqi, Kumpulan Hadis Shahih Bukhari Muslim, Semarang: PT. Pustaka Rizki Putra, 2012
Kiswan, Diktat Perkembangan Peserta Didik, Ciamis: Institut Agama Islam Darusssalam, 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar